Keinginan Sederhana Ibu

 

Mak Tua itu terus menatap sebuah bingkai foto yang terpapang di atas sebuah meja kamar. Sebuah bingkai foto yang terlihat sudah rusak dan kaca yang telah pecah. Sesekali Mak Tua itu meneteskan air mata sembari membersihkan bingkai yang mulai berdebu. Sebuah kamar kosong di gubug tua itu selalu di bersihkannya dengan penuh harapan. Kedua anak Mak Tua selalu menatapnya tanpa mau membantu membersihkan kamar tua itu.

 

Kedua anak Mak Tua itu selalu mengabaikannya dan terkadang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hati Mak Tua itu selalu merasa kesepian semenjak anak-anaknya mulai sibuk dengan dunia mereka sendiri. Terkadang Mak Tua itu duduk sendiri di ruang tamu sembari menunggu anak-anaknya pulang. Terkadang pula Mak Tua menangis dan terus berdoa untuk Alm Suami dan anak-anaknya. Mak Tua memiliki tiga orang anak yang dia besarkan seorang diri semenjak sang suami meninggal.

 

Anak pertama kerja merantau semenjak lulus SMA, anak kedua bekerja di sebuah biro wisata, sedangkan anak ketiga bekerja di sebuah minimarket sambil berkuliah. Semenjak ketiga anaknya sibuk, mak tua itu selalu merasa kesepian dan merindukan berkumpul dengan anak-anaknya. Namun apalah daya mak tua, dia hanya bisa memendam keinginannya dan selalu mendukung apa pun yang dilakukan anak-anaknya.

 

Tak pernah sedikit pun mak tua itu mengatakan keinginannya yang sederhana kepada anak-anaknya. Anak-anak mak tua pun juga sibuk akan kehidupan mereka masing-masing. Terkadang meski hari libur kedua anak mak tua selalu pergi meninggalkannya sendiri dirumah. Setiap malam tiap kedua anaknya pulang tidak sedikit pun mereka berdua untuk duduk dan berbicara atau bercerita dengannya. Mak tua itu selalu makan sendiri meski pun tinggal dengan kedua anaknya.

 

Suatu hari mak tua duduk di kamar kosong itu sembari memegang bingkai foto dikamar itu. Dia meneteskan air matanya sembari kembali mengingat kepergian sang suami. Dia juga teringat akan sikapnya yang selalu keras pada anak pertamanya sehingga membuatnya pergi merantau meninggalkannya dan tak pernah pulang. Air mata terus mengalir mengingat setiap keringat yang dia keluarkan untuk membiayai hidupnya dan anak-anaknya.

 

Meski sekarang hidup mak tua sudah lebih baik, namun dia terus merasa kesepian tanpa ada waktu berkumpul dengan anak-anaknya. Kerinduan mak tua pada anak pertama yang pergi merantau dan tanpa kabar pun semakin menyiksanya. Meski sang anak pertama tidak pernah pulang, namun setiap bulan mak tua selalu mendapat uang dari tetangga. Anak pertama mak tua tidak pernah lupa pada mak tua itu. Dia selalu memberikan kiriman uang kepada mak tua itu melalui tetangganya. Setiap gaji anak pertama selalu di kirim ke rumah untuk mak tua melalui tetangganya.

 

Berbeda dengan anak pertama, anak kedua dan ketiga selalu menyimpan gaji mereka dengan sangat hati-hati. Mereka berdua hanya memberi mak tua itu sedikit uang untuk keperluannya. Meski dia mendapat uang dari anak-anaknya, namun dia tetap merasa sedih karena tak bisa berkumpul dengan mereka seperti dulu saat sang suami masih hidup.

 

Malam semakin larut bersama dengan hujan yang turun lebat. Mak tua duduk ruang tamu sembari berharap kedua anaknya cepat pulang. Dia bahkan tidak makan dan menunggu dengan harapan kedua anaknya pulang lalu bisa makan bersama. Tiba-tiba pintu terbuka, sang anak kedua pulang dengan mengenakan jas hujan.

 

“Mak, kenapa belum tidur?”

“Mak menunggu kamu sama adik kamu, Nak”

“Tidak usah menunggu Mak, kami bukan anak kecil lagi yang harus di tunggu setiap pulang”

 

Anak kedua melepas jas hujannya kemudian berjalan masuk kedalam kamar dan menutup pintunya meninggalkan Mak Tua di ruang tamu sendirian. Mak Tua hanya menunduk menahan tangis mendengar perkataan anak keduanya. Tiba-tiba pintu pun terbuka, anak ketiga masuk kerumah dengan pakaian yang basah. Anak ketiga tidak sedikit pun melirik Mak Tua dan langsung berjalan masuk menuju kamar dan menutup pintunya. Melihat sikap anak ketiganya itu, mak tua hanya bisa mengelus dada dan berdiri menutup dan mengunci pintu rumah.

 

Mak Tua itu pun berjalan menghampiri kamar anak kedua. Dia mengetuk pintu kamar anak keduanya itu.

 

“Nak, Ayo makan dulu”

 

Mak tua itu terus menerus mengetuk pintu sambil memanggil anak keduanya, namun tidak ada sedikit pun jawaban. Lalu dia berjalan mengetuk kamar anak ketiganya.

 

“Nak, Ayo makan dulu”

 

Mak tua terus mengetuk tanpa ada sedikit pun jawaban dari dalam kamar. Mak Tua pun terdiam dengan perasaan yang begitu sedih. Tiba-tiba pintu kamar anak ketiga terbuka. Anak ketiga itu menatap mak tua dengan mata yang terlihat lelah.

“Mak, aku sudah makan diluar tadi. Mak tidur saja, ini udah malam loh. Aku juga capek ingin istirahat”

“Tapi, Nak . . . .”

 

Sebelum Mak tua selesai berbicara, pintu kamar anak ketiga pun ditutup kembali. Mak Tua hanya terdiam dan berjalan menuju meja makan. Mak Tua akhirnya makan sendirian dengan air mata yang berlinang. Semua masakan yang dia buat untuk anaknya pun akhirnya mubazir tidak termakan.

 

Hari kehari sikap anak-anaknya terus seperti biasa tanpa sedikit pun mereka meluangkan waktu untuk berbicara atau berkumpul bersama. Mak Tua hanya bisa menahan tangis dan bersabar atas sikap kedua anaknya. Terkadang saat anak-anaknya bekerja, mak tua duduk di kamar anak pertamanya yang telah kosong selama 4 tahun. Mak tua itu selalu membersihkan kamar anak pertamanya dengan harapan dia akan secepatnya pulang.

 

Siang itu mak tua duduk di teras rumah sembari menatap ke jalan depan rumah. Wajahnya terlihat sayu dan matanya seolah menahan bendungan air matanya. Tiba-tiba tetangga Mak Tua itu berlari menghampirinya. Mak Tua bergegas berdiri menghampiri tetangganya itu.

 

“Mak….Mak… ini anak pertama mu telfon ingin berbicara”

 

Dengan cepat Mak Tua pun meraih telefon milik tetangganya. Air mata berlinang di mata mak tua mendengar suara anak pertamanya dari telefon. Semua perasaan mak tua akan kerinduaannya pada anak pertama pun keluar semua. Wajah sedih mak tua itu kini perlahan terlihat gembira.

 

Setelah itu sang anak pertama setiap malam selalu telfon mak tua menanyakan keadaannya dan banyak bercerita. Setiap malam mak tua selalu berdoa kepada Allah SWT agar keinginan sederhananya bisa terkabul. Keinginannya yang hanya ingin berkumpul dengan anak-anaknya. Keinginan sederhana yang selalu dia doakan setiap harinya.

 

Malam itu setelah mak tua telfon anak pertamanya, dia duduk di ruang tamu untuk menunggu kepulangan anak kedua dan ketiga. Berjam-jam mak tua menunggu dan akhirnya pintu pun terbuka, kedua anaknya pun pulang. Tanpa berkata apa pun mereka berdua berjalan masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamarnya. Mak Tua hanya bisa tersenyum dengan rasa sedih di hatinya. Dia pun menutup pintu rumah dan masuk ke kamar untuk tidur.

 

Keesokan paginya Mak tua membuat makanan untuk kedua anaknya. Namun mereka berdua tidak sedikit pun menghiraukan ajakkan mak Tua untuk makan bersama. Mereka berdua berjalan meninggalkan rumah tanpa memakan masakan yang telah di buatkannya. Mak Tua hanya terdiam melihat kedua anaknya berangkat kerja.

 

Sore pun tiba, 3 hari sang anak pertama tidak bisa dihubungi. Mak Tua pun menyiapkan makanan untuk anak-anaknya nanti saat pulang.

 

“Assalamualaikum”

 

Tiba-tiba dari depan rumah terdengar suara orang memberi salam. Mak Tua pun  mematikan kompor dan berjalan kedepan menghampiri sumber suara. Mak Tua terdiam menatap kearah pintu, air matanya mengalir deras. Anak pertama Mak Tua pulang, dia berdiri di pintu dengan senyum di wajahnya. Anak pertama pun berlari menghampirinya dan mencium tangannya.

 

“Mak, maafkan anak mu ini yang baru bisa pulang. Maafkan anak mu ini yang pergi dan tak pernah memberi kabar pada Mak.”

 

Air mata mengalir dari mata anak pertama. Mak Tua pun memeluk erat anak pertamanya yang telah kembali pulang. Mak tua dan anak pertama pun berbicang-bincang di ruang tamu sembari menunggu kepulangan kedua anaknya. Tak berselang beberapa jam, anak kedua dan ketiga pulang dengan nafas terengah-engah. Mereka menatap di ruang tamu terlihat Mak Tua dan kakaknya. Kedua anak itu pun berlutut dan memegang kaki Mak Tua.

 

“Mak, maafkan kami. Kami terlalu menikmati waktu kami hingga tidak menghiraukan Mak” kata anak kedua dengan air mata mengalir deras.

“Aku juga minta maaf Mak. Aku selalu mengabaikan Mak. Padahal Mak hanya ingin berkumpul dengan kami” kata anak ketiga sambil memeluk erat kaki Mak Tua.

“Mulai saat ini kami tidak akan membiarkan merasa sendirian. Kalau Mak ada keingingan tolong sampaikan kepada kami” kata anak pertama.

 

Mak Tua meneteskan air mata mendengarkan perkataan pertamanya. Anak pertama pun berkata telah menjelaskan keinginan Mak Tua kepada kedua adiknya. Mak Tua pun meminta kedua anaknya berdiri dan memeluk mereka. Mak Tua menangis dengan perasaan lega karena anak-anaknya bisa berkumpul dengannya kembali. Akhirnya sejak saat itu keinginan sederhana Mak Tua telah terkabulkan. Senyum bahagia di wajah Mak Tua terukir selalu setiap harinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal Mula Ganesha

Anjing dan Kucing