Anjing dan Kucing


Hasil gambar untuk anjing dan kucing animasi

Banyak yang bilang bahwa kucing dan anjing itu selalu bertengkar. Setiap bertemu selalu terjadi pertingkaian dan berakhir dengan saling membenci. Mungkin istilah anjing dan kucing cocok untuk mereka berdua. Melodias dan Arimbi adalah 2 orang teman sejak kecil, namun entah kenapa semenjak memasuki jenjang SMP mereka berdua selalu bertengkar dan tidak pernah saling menyapa. Setiap mereka bertemu hanya ada perselisihan dan terkadang hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Namun terkadang mereka juga bisa saling akrab seolah tidak pernah terjadi perselisihan antara mereka. Hingga akhirnya hari kelulusan pun tiba, mereka berdua kembali berbaikan. Setelah lulus, Melodias melanjutkan sekolah di SMA yang dekat rumahnya, sedangkan Arimbi bersekolah ke luar kota ikut kakaknya. Mereka berdua pun mulai jarang bertemu atau berbicara.

 

Senin pagi seperti biasa Melodias berangkat kesekolah dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan Melodias bertemu dengan banyak teman-temannya yang tengah berjalan. Hari-hari terasa begitu biasa saja, seolah ada yang hilang dari kehidupannya. Saat di sekolah dia hanya fokus belajar dan sesekali berkumpul dengan teman-temannya. Berangkat sekolah dan pulang sekolah, hanya itu yang dia lakukan tiap hari. Melodias terkadang merasa bosan dengan kehidupan yang monoton itu. Suatu hari Melodias berbicara dengan kakeknya yang tengah duduk di teras rumah mengenai apa yang tengah dia rasakan.

 

“Kakek, bisa bicara sebentar”

“Ada apa Cu?”

“Kek, ada teman kakek yang butuh pekerja paruh waktu tidak?”

“Tumben tanya kerjaan? Ada angina apa sampai ingin bekerja?”

“Aku hanya bosan kek, seolah sekolah, pergi main, belajar itu sudah sering ku lakukan. Aku pengen mencoba hal baru”

 

Kakek terdiam sembari menyalakan rokok kretek kesukaaannya. Dia menatap sang cucu yang terlihat serius dengan pembicaraan itu.

 

“Oh, kalau bantu kakek di sawah saja gimana?”

“Bosan Kek”

 

Kakek Melodias kembali menghisap rokoknya dan sesekali menggaruk-garuk dagunya. Melodias bersandar di tiang penyangga rumah sambil menatap kearah jalan. Suasana sore hari dengan pembicaraan serius itu membuat keheningan diantara mereka berdua. Tiba-tiba kakek beranjak dari tempat tidur dan menepuk pundak cucunya sambil tertawa.

 

“Eh, kenapa malah ketawa kek?”

“Kakek baru ingat, teman kakek yang punya toko alat tulis kemarin bilang butuh pegawai”

 

Wajah Melodias terlihat senang mendengar kata-kata kakeknya.

 

“Toko yang sebelah mana kek? Tolong bilang teman kakek, aku mau kerja disana”

“Hahahaha, besok kakek tanyakan. Sekarang mandi dulu sana”

 

Melodias mengangguk dan pergi meninggalkan kakeknya yang tengah berada di teras rumah. Dalam hati Melodias merasa senang bisa mendapatkan kerja paruh waktu dan bisa menghilangkan rasa bosannya. Keesokan paginya, Melodias berangkat kesekolah dengan perasaan senang. Sampai di depan sekolah, dia tercengang melihat sosok wanita yang tidak asing lagi dimatanya. Melodias hanya diam dan terus berjalan tanpa menatap wanita itu. Hingga akhirnya tiba-tiba sebuah tangan memukul tepat ke punggung Melodias dengan keras. Melodias menghela nafas dan berbalik menatap kearah orang yang memukulnya. Betapa terkejutnya dia, orang yang memukul punggungnya adalah wanita itu. Dia adalah Arimbi teman Melodias yang selalu ribut dengannya. Melodias hanya terdiam menatapnya dan kembali berbalik lalu berjalan meninggalkannya.

 

Bel pun berbunyi, semua siswa mulai masuk ke kelas untuk siap belajar. Guru pun masuk bersama seorang murid pindahan. Semua mata lelaki di kelas tertuju pada wanita itu, dan semua wanita mulai berbisik-bisik. Melodias menghela nafas dalam-dalam seolah sudah paham dengan keadaan itu. Ya, Arimbi menjadi murid pindahan dan sekelas dengannya. Setelah sekian lama tidak bertemu, mereka akhirnya kembali bertemu. Namun bagi Melodias itu sebuah hal yang tidak dia inginkan. Dia termenung mengingat kejadian-kejadian selama masa SMP satu kelas dengan Arimbi. Dan dia merasa akan banyak hal yang merepotkan karena wanita itu kembali. Arimbi pun duduk di bangku depan, sedangkan Melodias di bangku belakang dekat jendela.

 

Jam istirahat pun tiba, semua anak keluar dari kelas dan menyisakan beberapa orang di kelas. Melodias meletakan kepalanya di meja dan memejamkan matanya. Tiba-tiba dari belakangnya sebuah tangan memegang bahunya. Melodias pun bangun dan berbalik menatap kebelakang.

 

“Kau? Apa mau mu?”

“Eh, dah lama enggak ketemu masih saja kayak gitu omongan mu!”

“Serahlah, ada apa?”

“Temani ke kantin”

“Males”

 

Mendengar jawaban Melodias, Arimbi pun duduk di bangku sebelahnya. Dia meletakan kepalanya di meja sembari menatap kearah Melodias.

 

“Sial! Oke ayo ku temani ke kantin”

“Siap”

 

Melodias menghela nafas dan berdiri dari bangku dan di ikuti oleh Arimbi.

 

“Jangan sok kenal dengan ku selama dikantin”

“Widih, kenapa emang? Ada cewek mu ya?”

“Males saja kalau ada kabar angin yang tidak benar”

 

Melodias pun berjalan dengan wajah kesal, Arimbi berjalan dibelakangnya sambil tersenyum. Sesampainya di kantin, mereka berdua berpisah. Melodias hanya membeli minum dan duduk dengan beberapa temannya yang tengah asyik bercerita. Sedangkan Arimbi terlihat tengah membeli beberapa makanan dan minuman.

 

*****

Bel pulang sekolah pun berbunyi, Melodias dengan cepat membereskan buku dan langsung berjalan pulang. Sampai di depan gerbang sekolah, Arimbi kembali muncul dan melempar tas kearah Melodias. Dia terlihat tertawa melihat tasnya mengenai punggung Melodias. Tanpa banyak bicara, Melodias tidak menghiraukannya dan terus berjalan. Arimbi yang melihat itu merasa ada yang berubah dari teman SMP nya yang selalu ribut dengannya. Melodias terus berjalan tanpa menoleh kebelakang. Dia hanya menghela nafas tidak mau terlalu memikirkan apa yang dilakukan Arimbi.

 

Melodias pun setiap pulang sekolah mulai sibuk dengan kerjanya. Dan di sekolah Arimbi terus berusaha mengganggu Melodias setiap jam pulang sekolah. Banyak suara angin yang berkata ini itu tentang Melodias dan Arimbi. Dia hanya diam tidak mau memikirkannya dan tanpa mau meluruskan kabar angina tidak benar itu. Hari demi hari Arimbi mulai berhenti mengganggu Melodias, dia seolah sudah tidak berniat lagi mengganggunya. Melodias hanya diam seperti biasa dan melakukan hal yang dia anggap benar. Hingga jam istirahat kedua pun tiba, Melodias berdiri berjalan melewati meja Arimbi. Dia melihat wanita itu hanya diam dan memejamkan matanya.

 

Melodias terus berjalan meninggalkan wanita itu sendirian di kelas. Sampai di kantin, dia membeli 2 minuman dan roti lalu berjalan kembali ke kelas setelah menyapa temannya yang tengah asyik berbicara. Sampai di kelas, Melodias menghampiri meja Arimbi. Dia pun meletakan roti dan minuman dingin di meja Arimbi lalu berjalan kembali kemejanya. Melodias menatap keluar jendela dan meminum minuman yang dia beli. Hanya hening dan sepi yang terasa di kelas saat jam istirahat itu. Arimbi pun terbangun dan melihat roti dan minuman, dia menatapa ke seluruh kelas dan melihat Melodias yang tengah meminum minuman sambil menatap keluar jendela. Arimbi pun tersenyum dan memakan roti itu.

 

Bel pulang pun berbunyi, Melodias bergegas pulang. Sampai di depan kelas tangannya di tarik oleh Arimbi. Melodias pun berbalik dan menatap Arimbi.

 

“Ada apa?”

“Makasih atas roti dan minumannya tadi”

“Anggap saja hadiah karena kau bisa diam tanpa mengganggu ku hari ini”

“Hahaha iya, maaf kalau aku selalu mengganggu mu”

 

Melodias menghela nafas, dia memegang kepala Arimbi dan mengacak-acak rambutnya.

 

“Kagak usah dipikirkan, lagian itu sudah bagian dari diri mu yang menyebalkan bukan”

 

Arimbi terdiam dan tersenyum mendengar perkataan Melodias. Dia merasa memang sewajarnya seseorang berubah karena seiring berjalannya waktu. Namun kenangan atau ingatan tidaklah bisa berubah. Melodias selalu sadar akan sikap yang dimiliki Arimbi yang selalu mengganggunya. Namun kini Arimbi juga sadar akan sikap Melodias yang selalu memperhatikannya meski bersikap tidak peduli.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal Mula Ganesha

Keinginan Sederhana Ibu